Kalau di road marathon kamu bisa mengandalkan water station yang tersedia di setiap 5 kilometer, trail running tidak menawarkan kemewahan itu. Medan yang bervariasi, elevasi yang berubah-ubah, dan durasi race yang bisa merentang dari 2 jam hingga lebih dari 24 jam menjadikan strategi nutrisi di trail jauh lebih kompleks dan jauh lebih personal dari maraton biasa.
Mengapa Nutrisi Untuk Trail Run Berbeda dari Marathon?
Ada tiga faktor utama yang membuat nutrisi trail run berbeda secara fundamental:
Intensitas yang fluktuatif. Di trail, intensitas berubah drastis setiap beberapa menit. Tanjakan curam memaksa tubuh masuk ke zona anaerobik, sementara turunan memungkinkan sedikit recovery. Fluktuasi ini membuat kalkulasi kebutuhan energi jauh lebih sulit dari pace flat yang konstan.
Durasi yang jauh lebih panjang. Trail run kategori 25K ke atas bisa memakan waktu 4-8 jam untuk sebagian besar pelari. Di durasi ini, strategi nutrisi yang tidak direncanakan dengan baik hampir pasti berujung pada kelelahan ekstrem jauh sebelum garis finish.
Kondisi lingkungan yang ekstrem. Ketinggian mengurangi nafsu makan secara signifikan meski kebutuhan energi tetap sama atau lebih tinggi. Panas memperburuk dehidrasi. Dingin meningkatkan kebutuhan energi untuk menjaga suhu tubuh.
Penelitian yang diterbitkan di International Journal of Sport Nutrition and Exercise Metabolism menunjukkan bahwa pelari ultra trail mengalami penurunan kadar glukosa darah yang signifikan bahkan dengan strategi suplementasi karbohidrat yang agresif, menekankan betapa besarnya kebutuhan energi di event jenis ini.
Kebutuhan Kalori di Trail Run
Sebagai panduan umum, pelari trail membakar sekitar 400-700 kalori per jam tergantung berat badan, intensitas, dan medan. Untuk race 8 jam, itu berarti total pengeluaran energi 3.200-5.600 kalori, jumlah yang tidak mungkin digantikan sepenuhnya selama race berlangsung.
Target yang realistis menurut panduan dari Ultra Running Magazine dan berbagai pelatih ultra adalah mengonsumsi sekitar 200-300 kalori per jam selama race, atau sekitar 60-90 gram karbohidrat per jam untuk sesi di atas 2-3 jam. Ini bukan berarti menggantikan semua kalori yang keluar, tapi cukup untuk mencegah penurunan performa yang parah.
Strategi Nutrisi Berdasarkan Kategori Jarak
Trail Run 10-25K (2-4 Jam)
Ini adalah kategori yang paling dekat dengan half marathon dari sisi durasi. Kebutuhan nutrisinya lebih sederhana tapi tidak bisa diabaikan, terutama kalau rutenya memiliki elevation gain yang signifikan.
Sebelum race: Makan besar 3 jam sebelum start dengan karbohidrat yang mudah dicerna, protein moderat, dan minimal lemak dan serat. Sarapan ideal bisa berupa nasi dengan telur, atau oatmeal dengan pisang.
Selama race: Untuk race di bawah 90 menit, air saja mungkin cukup. Untuk yang di atas 90 menit, energy gel setiap 30-45 menit mulai dari 45-60 menit pertama adalah strategi yang solid. Untuk 25K yang bisa memakan 3-4 jam, targetkan 1-2 energy gel per jam.
Setelah race: Protein dan karbohidrat dalam 30-60 menit setelah finish untuk memulai pemulihan.
Trail Run 35-50K (4-8 Jam)
Di kategori ini, strategi nutrisi menjadi jauh lebih penting dan lebih kompleks. Kelelahan di paruh kedua race hampir selalu berkaitan dengan manajemen nutrisi yang buruk, bukan semata-mata kurangnya kebugaran fisik.
Sebelum race: Carbohydrate loading 2-3 hari sebelum race, mirip dengan persiapan maraton. Tambahkan natrium yang cukup dalam makanan karena kehilangan elektrolit melalui keringat di trail yang panjang bisa sangat signifikan.
Selama race: Targetkan 200-250 kalori per jam. Variasikan sumber energi antara energy gel, makanan padat di checkpoint jika tersedia (pisang, kurma, atau makanan yang familiar), dan minuman dengan elektrolit. Jangan hanya mengandalkan satu sumber kalori untuk durasi sepanjang ini.
Manajemen natrium: Kehilangan natrium melalui keringat di trail panjang bisa menyebabkan hiponatremia, kondisi medis serius di mana kadar natrium darah turun terlalu rendah. Konsumsi makanan asin di checkpoint atau elektrolit tablet membantu mencegah ini.
Ultra Trail 70K ke Atas (8+ Jam)
Di ultra trail, nutrisi bukan lagi tentang performa optimal, tapi tentang kemampuan untuk terus bergerak maju sampai finish. Sistem pencernaan manusia tidak dirancang untuk berfungsi optimal saat tubuh sedang berlari dalam waktu yang sangat panjang.
Tantangan utama: Gangguan pencernaan adalah penyebab terbesar pelari ultra terpaksa berhenti. Mual, kembung, dan ketidakmampuan untuk mengonsumsi makanan atau minuman apapun bisa datang tiba-tiba dan sangat menghambat.
Strategi yang terbukti bekerja:
- Mulai makan lebih awal dari yang dirasa perlu, bahkan sebelum lapar. Menunggu sampai lapar di ultra berarti sudah terlambat
- Variasikan tekstur dan rasa untuk menghindari flavor fatigue, yaitu kondisi di mana satu produk terasa sangat tidak menarik setelah dikonsumsi berulang kali selama berjam-jam
- Kurangi intensitas berlari saat mengonsumsi makanan untuk membantu pencernaan
- Jaga hidrasi secara konsisten tanpa berlebihan karena minum terlalu banyak air tanpa elektrolit juga berbahaya
Peran Energy Gel di Trail Running
Energy gel adalah salah satu solusi nutrisi paling versatile untuk trail running karena beberapa alasan yang sangat praktis:
Ukurannya yang kecil dan ringan membuatnya mudah dibawa di vest tanpa menambah beban yang berarti. Di trail di mana setiap gram beban terasa di tanjakan panjang, ini adalah keunggulan yang sangat nyata.
Penyerapannya yang cepat membuatnya ideal untuk dikonsumsi tepat sebelum atau selama tanjakan berat, memberikan energi yang tersedia dengan cepat saat tubuh paling membutuhkannya.
Tidak memerlukan pengunyahan atau persiapan apapun, sehingga bisa dikonsumsi bahkan saat berlari di jalur berbatu yang membutuhkan konsentrasi penuh pada kaki.
Penting: selalu konsumsi energy gel dengan air, bukan minuman isotonik, untuk membantu penyerapan dan menghindari masalah pencernaan yang bisa terjadi kalau konsentrasi gula terlalu tinggi di perut.
Kamu bisa mendapatkan energy gel EJ Sport Official di Tokopedia EJ Sport Official Store dan Shopee EJ Sport Official.
Hidrasi di Trail Run
Berapa Banyak Harus Minum?
Kebutuhan hidrasi di trail sangat bervariasi tergantung suhu, kelembapan, intensitas, dan karakteristik individu. Panduan umum yang sering digunakan adalah 500-750 mL per jam dalam kondisi normal, lebih banyak di cuaca panas.
Tapi terlalu banyak minum air tanpa elektrolit adalah masalah tersendiri. Hyponatremia atau keracunan air adalah risiko nyata di ultra trail, di mana pelari yang minum terlalu banyak air murni mengencerkan kadar natrium darah ke level yang berbahaya. Gejala awalnya mirip dengan dehidrasi seperti kebingungan dan mual, yang membuatnya sulit dibedakan tanpa pemeriksaan medis.
Sistem Hidrasi yang Efektif
Hydration vest dengan soft flask adalah pilihan paling umum untuk trail runner karena memungkinkan akses mudah ke air sambil berlari. Kapasitas minimal 1,5 liter direkomendasikan, lebih banyak untuk section antar checkpoint yang panjang.
Latihan Nutrisi: Coba di Training, Bukan di Race Day
Ini adalah prinsip yang tidak bisa dikompromikan. Apapun strategi nutrisi yang akan digunakan di race day harus sudah dicoba dan diuji selama latihan, terutama di long run yang paling panjang.
Setiap perut bereaksi berbeda terhadap produk dan strategi yang berbeda. Ada pelari yang sangat cocok dengan energy gel tapi tidak bisa makan solid food saat berlari. Ada yang sebaliknya. Mengetahui respons tubuhmu sebelum race day adalah informasi yang tidak bisa didapat dari artikel manapun.
Nutrisi trail run yang baik bukan tentang formula yang sempurna, tapi tentang pemahaman yang mendalam tentang apa yang dibutuhkan tubuhmu secara spesifik di kondisi yang spesifik. Mulai eksperimen dari sekarang di sesi latihan, dan bawa pengetahuan itu ke start line.
Baca juga: Cara Menjaga Keseimbangan Saat Lari
Frequently Asked Questions (FAQ) seputar Nutrisi untuk Trail Running:
1. Berapa kalori yang dibutuhkan saat trail run?
Targetkan sekitar 200-300 kalori per jam selama race, atau 60-90 gram karbohidrat per jam untuk event di atas 2-3 jam. Ini tidak menggantikan semua kalori yang keluar tapi cukup untuk mencegah penurunan performa yang parah.
2. Kapan harus mulai makan saat trail run?
Mulai lebih awal dari yang dirasa perlu. Untuk race di atas 90 menit, konsumsi pertama sebaiknya dilakukan di 45-60 menit pertama, bahkan sebelum merasa lapar. Di ultra trail, menunggu sampai lapar berarti sudah terlambat.
3. Apakah energy gel aman dikonsumsi di trail run jarak jauh?
Sangat aman dan sangat praktis. Kuncinya adalah selalu dikonsumsi dengan air, bukan minuman isotonik, dan sudah dicoba saat latihan sebelum digunakan di race day. Variasikan dengan makanan lain untuk race yang sangat panjang.
4. Apa itu hiponatremia dan bagaimana mencegahnya di trail run?
Hiponatremia adalah kondisi kadar natrium darah yang terlalu rendah akibat minum terlalu banyak air murni tanpa elektrolit. Dicegah dengan mengonsumsi elektrolit dari minuman isotonik, tablet elektrolit, atau makanan asin di checkpoint.
5. Apakah perlu carbohydrate loading sebelum trail run?
Untuk kategori 35K ke atas, carbohydrate loading 2-3 hari sebelum race sangat disarankan. Untuk trail 10-25K, makan besar dengan karbohidrat yang baik 3 jam sebelum start sudah cukup.
6. Bagaimana mengatasi mual saat trail run jarak jauh?
Kurangi intensitas berlari, istirahat sejenak, dan coba makanan atau minuman yang berbeda tekstur dan rasanya. Kalau mual sangat parah, istirahat di checkpoint dan coba minum sedikit-sedikit dulu. Mual yang parah dan persisten perlu evaluasi dari petugas medis di checkpoint.